KOTA TASIKMALAYA - analisarakyatnews.com. - Puskesmas Purbaratu di bawah kepemimpinan Kepala Puskesmas Abdul Basit, S.Kep.,Ners terus bertransformasi. Melalui inovasi unggulan "SAHATE PURBARATU - Sehat Bersama Terintegrasi Purbaratu", Puskesmas ini menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program nasional Kemenkes RI di Kota Tasikmalaya. Senin 28 September 2026.
Inovasi ini dipaparkan langsung oleh Kasubag TU Ibu Yusi Asriyanti, S.Sos.,Msi bersama jajaran penanggung jawab program.
"Wilayah kami luas, kunjungan warga masih rendah, kasus stunting dan TBC masih ada, dan banyak ibu hamil telat periksa. Jadi kami buat solusi jemput bola, bukan menunggu di Puskesmas," ujar Yusi Asriyanti.
Tiga masalah utama yang dijawab SAHATE PURBARATU adalah: warga yang jauh/malas datang, data Posyandu yang tidak nyambung, dan deteksi kasus yang terlambat.
Tiga Pilar Konkret: Jemput Bola, Digital, dan Kolaborasi
Inovasi ini dijalankan setiap hari melalui 3 pilar:
1. Jemput Bola (Door to Door): Tim Bidan Desa dan Nakes melakukan kunjungan rumah untuk bumil risti, balita stunting, dan pasien TBC.
Kata Bidan Koordinator: "Melalui program Purbaratu Peduli Bumil Resti, kami pantau langsung ibu hamil di 6 kelurahan, jadi risiko bisa dicegah lebih dini."
2. Digitalisasi: Pendaftaran via WhatsApp Center, Anjungan SIMPUS, dan Grup WA Siaga Sehat per RW. Semua data terintegrasi ke SatuSehat dan P-Care BPJS.
3. Kolaborasi Kader: Kader PKK, RT/RW, Kelurahan menjadi ujung tombak skrining di Posyandu ILP.
Sudah 100% Implementasi ILP dan Dukung 6 Pilar Transformasi Kemenkes
Terkait 6 Pilar Transformasi Kesehatan, Yusi menegaskan SAHATE adalah wujud nyata Pilar ke-1 Transformasi Layanan Primer.
"Dulu Posyandu hanya untuk balita. Sekarang di Purbaratu, 100% Posyandu sudah ILP, melayani 5 siklus hidup: ibu hamil, balita, remaja, dewasa, dan lansia. Ini sesuai arahan Kemenkes," jelasnya.
Peran Nyata Untuk Program Nasional
Inovasi ini mempercepat 3 program prioritas nasional:
a. Stunting: Deteksi dini oleh kader di Posyandu ILP, langsung intervensi PMT dan edukasi gizi ke rumah.
Kata Pengelola Gizi: "Berat badan tidak naik langsung kami kunjungi, tidak menunggu laporan bulanan."
b. TBC: Skrining dahak di rumah dan pendampingan minum obat sampai sembuh.
Kata Pengelola Program TBC: "Tujuan kami tidak ada pasien putus obat di Purbaratu."
c. Cek Kesehatan Gratis (CKG): Posyandu ILP menjadi pintu masuk skrining awal tensi, gula darah, dan lingkar perut.
Didukung Lintas Sektor dan Capaian Meningkat
Keberhasilan ini tidak lepas dari lintas sektor. Kelurahan dan Kecamatan mendukung kebijakan dan tempat, sementara Karang Taruna dan tokoh agama menggerakkan warga.
Hasilnya, kunjungan Posyandu ILP naik hingga 40%, kasus lebih cepat terpantau, dan capaian SPM untuk ibu hamil, balita, dan TBC sudah di atas 90%.
"Kuncinya: Puskesmas sebagai pembina, Kelurahan/Kecamatan sebagai pendukung, dan Kader serta tokoh masyarakat sebagai penggerak," tambah Yusi.
Strategi sosialisasi dilakukan dengan door to door, aktif di Grup WA RW, dan titip pesan melalui pengajian warga bersama RT/RW.
Kata Promkes: "Kami jemput bola dan pakai bahasa warga, jadi warga mau datang ke CKG."
Harapan ke Depan
"Target kami semua Posyandu menjadi ILP mandiri, cakupan CKG 100%, zero stunting baru dan zero TBC mangkir. Ini untuk mendukung Tasikmalaya sebagai Kota Sehat dan mewujudkan Asta Cita bidang kesehatan, membangun SDM unggul dari tingkat kelurahan." Ungkap Yusi.
Penulis : Ajang Moh Miptahul Palah.
